Menjelang Dzulhijjah, Ternyata Para Kiai Dulu Sibuk Melakukan Ini…

Ali Zain Aljufri - Langit di atas kampung itu terlihat biasa saja. Hamparan sawah tetap hijau. Sesekali, suara motor melintas perlahan di depan langgar yang tak seberapa besar. Namun, di serambi mushola, seorang kiai sepuh nampak berdiam lebih lama dari biasanya. Tasbih di genggamannya bergerak lambat, sementara bibirnya tak henti melafalkan istighfar.
Malam-malam di penghujung Dzulqo’dah memang kerap menghadirkan nuansa tersendiri di kampung-kampung NU pada masa lalu. Tidak banyak keramaian. Tidak pula hiruk-pikuk. Namun, justru di sana terasa sebuah suasana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seakan-akan, para ulama’, habaib dan salafuna sholih tengah bersiap menyambut kedatangan bulan agung bernama Dzulhijjah.
Bagi kebanyakan orang, akhir Dzulqo’dah mungkin sekadar pergantian bulan seperti biasa. Namun, di mata para kiai terdahulu, momen ini adalah waktu penting untuk persiapan ruhani. Sebuah kesempatan untuk membersihkan hati sebelum menjejakkan kaki ke hari-hari yang penuh kemuliaan.
Tradisi di penghujung Dzulqo’dah ini lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Ia merupakan warisan adab yang berharga. Sebuah warisan dari rasa takut yang mendalam kepada Allah, sekaligus kerinduan akan datangnya musim ibadah.
1. Tradisi Akhir Dzulqo’dah yang Kini Kian Terlupakan

Dulu, di berbagai pesantren salaf, akhir Dzulqo’dah kerap diwarnai dengan intensifikasi ibadah. Para santri, meski mungkin belum sepenuhnya memahami maknanya, tetap taat mengikuti apa yang dilakukan oleh para guru mereka.
Beberapa mulai memperbanyak puasa sunnah. Lainnya mengurangi waktu tidur di malam hari. Ada pula yang dengan sengaja meluangkan lebih banyak waktu untuk bersholawat selepas Maghrib, bahkan hingga larut malam.
Para kiai di kampung-kampung dahulu meyakini bahwa hati manusia perlu “disucikan” sebelum memasuki bulan Dzulhijjah. Sebab, Dzulhijjah bukan sekadar bulan biasa. Di dalamnya terdapat Hari Arafah, Idul Adha, serta sepuluh hari pertama yang begitu diagungkan oleh Allah.
Maka dari itu, amalan di penghujung Dzulqo’dah ini lantas menjadi semacam latihan ruhani. Sebuah persiapan batin, agar kita tidak memasuki bulan yang mulia itu dengan hati yang masih dipenuhi kelalaian.
2. Memperbanyak Istighfar Menjelang Kedatangan Bulan yang Penuh Berkah

Salah satu kebiasaan para ulama’ NU yang paling menonjol menjelang Dzulhijjah adalah memperbanyak istighfar.
Tentu, hal itu bukan tanpa alasan.
Para ulama’ salaf sangat memahami bahwa tumpukan dosa mampu membuat hati terasa berat untuk beribadah. Oleh karenanya, sebelum musim ibadah besar itu tiba, mereka sungguh-sungguh menyibukkan diri untuk membersihkan diri. Fokusnya bukan pada membersihkan rumah atau urusan duniawi, melainkan pada pembersihan hati.
Para kiai kampung dulu, selepas sholat, kerap membaca Sayyidul Istighfar. Bahkan, ada juga yang mampu mengkhatamkan ribuan istighfar dalam sehari, terutama menjelang bulan Dzulhijjah.
Yang menarik, mereka jarang sekali membicarakan amalan tersebut di hadapan banyak orang. Semuanya terlaksana dalam kesunyian dan kerahasiaan.
Inilah salah satu karakteristik amalan para salafus sholih. Mereka tidak menyukai segala bentuk pamer, tidak pula berhasrat untuk dilihat oleh manusia.
Bagi mereka, kekhawatiran akan hilangnya amal karena riya’ jauh lebih besar dibandingkan ketakutan tidak dipuji oleh sesama.
3. Berpuasa Sunnah: Latihan Penting untuk Menundukkan Hawa Nafsu

Tradisi di penghujung Dzulqo’dah ini juga tak lepas dari praktik puasa sunnah. Banyak dari habaib dan kiai sepuh mulai membiasakan diri berpuasa sejak hari-hari terakhir Dzulqo’dah. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan tubuh dan jiwa agar prima saat memasuki puasa Arafah serta ibadah-ibadah Dzulhijjah lainnya.
Bagi mereka, puasa bukan hanya soal menahan lapar semata. Lebih dari itu, inilah jalan untuk menundukkan ego.
Sebab, memasuki bulan haji tidaklah cukup bermodal pengetahuan saja. Hati pun perlu dijinakkan, dan hawa nafsu harus dilatih untuk tetap tenang.
Di sejumlah pesantren tua di Jawa Timur dan Madura, para santri dahulu bahkan dianjurkan untuk mengurangi makan berlebihan menjelang Dzulhijjah. Ini bukan karena kekurangan makanan, melainkan demi menjaga agar hati tidak mengeras. Para kiai sepuh dulu kerap mengatakan:
“Perut yang kenyang, akan membuat mata sulit meneteskan air mata.”
Kalimat yang sederhana, namun begitu menusuk hati.
4. Perbanyak Sholawat di Malam-Malam Penghujung Dzulqo’dah

Ada sebuah pemandangan yang dulu begitu akrab di kampung-kampung NU. Menjelang bulan haji, kumandang sholawat mulai kian sering terdengar dari mushola-mushola kecil.
Terutama selepas Isya’, atau terkadang juga setelah Subuh.
Para Habaib pun dikenal memiliki tradisi memperbanyak sholawat menjelang bulan-bulan mulia, termasuk saat memasuki musim haji. Mereka meyakini, sholawat adalah jalan terlembut untuk membersihkan hati.
Dan memang, kebenaran itu terbukti.
Seseorang yang banyak bersholawat, lazimnya, hatinya akan lebih mudah luluh. Ia akan lebih mudah meneteskan air mata saat berdo’a dan lebih mudah merasakan kekerdilan diri di hadapan Allah.
Maka dari itu, persiapan Dzulhijjah dalam tradisi ulama’ terdahulu tidaklah melulu tentang fiqih kurban atau hukum haji. Ia juga sangat erat kaitannya dengan upaya melembutkan hati.
Sebab, ibadah yang dilakukan tanpa melibatkan hati, seringkali hanya akan menjadi gerakan hampa belaka.
5. Menjaga Silaturahmi: Mengurangi Pertengkaran dan Memohon Maaf

Hal lain yang tak kalah menarik dari kebiasaan para ulama’ NU di masa lalu adalah upaya mereka yang sungguh-sungguh dalam menjaga hubungan baik dengan sesama manusia menjelang bulan mulia.
Ada yang mulai mendatangi sanak saudara. Sebagian lainnya diam-diam memohon maaf kepada tetangga. Ada pula yang memilih untuk menghindari segala bentuk perdebatan.
Mereka menyadari, dosa yang berkaitan dengan sesama manusia seringkali lebih sulit untuk diselesaikan dibandingkan dengan dosa kepada Allah.
Di sebagian pesantren, para santri bahkan dibiasakan untuk sowan kepada guru mereka menjelang Dzulhijjah. Mereka menghaturkan hormat dengan mencium tangan kiai, memohon doa restu, serta meminta maaf atas segala kesalahan selama masa mondok.
Tradisi kecil semacam ini, sejatinya, memiliki makna yang sangat mendalam.
Sebab, inti dari ibadah bukan hanya sekadar hubungan vertikal dengan Allah, melainkan juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Sayangnya, tradisi semacam ini kini kian jarang terlihat di era media sosial. Manusia seringkali lebih sibuk memperdebatkan persoalan khilafiyah, dibandingkan fokus pada upaya membersihkan hati.
Padahal, para ulama’ di masa lalu justru lebih memfokuskan diri pada perbaikan diri sendiri.
6. Membaca Manaqib dan Kisah Para Insan Sholeh

Amalan lain di penghujung Dzulqo’dah yang cukup dikenal di kalangan tradisional adalah membaca manaqib para ulama’ dan kisah-kisah orang sholeh.
Lalu, mengapa demikian?
Sebab, kisah-kisah orang saleh memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali hati yang mungkin lalai.
Para ulama’ terdahulu sangat memahami bahwa hati manusia cenderung mudah mengeras, mudah merasa malas, dan mudah terjerat oleh cinta dunia. Maka, salah satu upaya untuk melembutkannya adalah melalui pendengaran kisah-kisah para wali dan ahli ibadah.
Di malam-malam terakhir Dzulqo’dah, sebagian majelis meluangkan waktu untuk membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Ada pula yang menyimak sejarah para habaib dan ulama’ salaf lainnya.
Tujuannya bukan semata untuk mengambil ceritanya saja, melainkan untuk menyerap semangat ibadah yang mereka tunjukkan.
Sebab, lazimnya, seseorang akan lebih mencintai apa yang sering ia dengarkan.
7. Dalam Kesunyian, Tradisi Ini Justru Mampu Menghidupkan Jiwa

Aspek paling indah dari tradisi akhir Dzulqo’dah ini, sejatinya, bukanlah pada jumlah amalan yang dilakukan. Melainkan pada suasana batin yang tercipta.
- Ada sebuah ketenangan
- Ada pula rasa bersiap diri
- Serta ada kesadaran mendalam bahwa hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mengejar urusan duniawi semata
Para kiai di masa lalu tidaklah menunggu tahun baru Hijriyah untuk memulai perubahan. Justru, mereka memanfaatkan setiap musim ibadah sebagai momentum berharga untuk terus memperbaiki diri.
Dan Dzulhijjah, adalah salah satu musim ibadah terbesar yang ada.
Oleh karenanya, menjelang kedatangan bulan tersebut, mereka tidak menyibukkan diri dengan memperbanyak ucapan. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada memperbanyak amal perbuatan.
Tidak berusaha untuk sekadar tampak saleh, melainkan sungguh-sungguh menyibukkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah.
8. Pelajaran Berharga untuk Muslim di Zaman Sekarang

Di zaman yang serba modern ini, banyak di antara kita menyambut bulan-bulan besar Islam hanya sebatas dengan poster dan ucapan di media sosial. Memang tidak ada yang salah dengan itu, namun seringkali, upaya kita berhenti sampai di sana.
Padahal, para ulama’ terdahulu telah memberikan teladan yang jauh lebih mendalam.
Mereka menyambut Dzulhijjah dengan puasa, dengan istighfar, juga dengan sholawat. Mereka juga mengiringinya dengan meminta maaf, serta berupaya mengurangi dosa-dosa lisan.
Mereka menyadari penuh bahwa keberkahan bulan yang mulia ini tidak akan datang secara otomatis hanya karena pergantian kalender.
Hati harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Dan mungkin, inilah yang perlahan memudar dari kehidupan modern kita: kesungguhan dalam menyambut setiap musim ibadah.
Kita seringkali mengharapkan hasil yang besar, namun seringkali abai terhadap persiapan ruhani yang matang.
Padahal, para salafus sholih telah mengajarkan bahwa sebelum datangnya cahaya besar, hati ini perlu dibersihkan terlebih dahulu.
9. Kesimpulan

Tradisi di penghujung Dzulqo’dah yang diamalkan oleh para kiai kampung, habaib, dan salafuna sholih, sesungguhnya merupakan wujud persiapan ruhani menjelang bulan Dzulhijjah. Mereka mengintensifkan istighfar, melaksanakan puasa sunnah, bersholawat, membaca manaqib, hingga sungguh-sungguh menjaga hubungan baik dengan sesama.
Semua amalan tersebut bukan dilakukan atas dasar tradisi kosong semata. Melainkan karena mereka sangat memahami kemuliaan yang terkandung dalam setiap musim ibadah.
Di tengah laju kehidupan modern yang serba cepat, tradisi semacam ini patut untuk kembali dihidupkan. Bukan hanya sekadar bernostalgia dengan masa lalu, melainkan agar hati kita dapat kembali peka terhadap kedatangan bulan-bulan mulia dalam ajaran Islam.
Sebab, bisa jadi yang membuat ibadah terasa hambar bukanlah karena minimnya ilmu yang dimiliki, melainkan karena hati kita belum sungguh-sungguh siap untuk menyambutnya.
10. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Tradisi akhir Dzulqo’dah adalah kebiasaan para ulama’, kiai, habaib dan salafus sholih dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Dzulhijjah melalui berbagai amalan ruhani seperti puasa, istighfar, dan sholawat.
Beberapa amalan yang umum dilakukan adalah memperbanyak istighfar, puasa sunnah, membaca sholawat, menjaga lisan, meminta maaf kepada sesama dan membaca manaqib orang sholeh.
Karena Dzulhijjah adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Persiapan ruhani membantu hati lebih siap menjalani ibadah seperti puasa Arafah, takbir, kurban dan dzikir.
Ya, sebagian pesantren dan majelis tradisional NU masih menjaga tradisi tersebut, terutama dalam bentuk puasa sunnah, pembacaan sholawat, manaqib dan penguatan ibadah menjelang Dzulhijjah.
Sholawat dipercaya mampu melembutkan hati, mendatangkan ketenangan, serta menjadi jalan mendekatkan diri kepada Rasūlullāh ﷺ sebelum memasuki bulan penuh kemuliaan.
Post a Comment