Bolehkah Menghajikan Orang Tua yang Sudah Meninggal Meski Tidak Pernah Berhaji?

Ali Zain Aljufri - Momen berdiri di depan pusara orang tua sering kali menjadi waktu di mana ingatan-ingatan lama kembali muncul. Ada kalanya, di tengah do’a-do’a yang dipanjatkan, terselip sebuah penyesalan yang cukup menyesakkan hati. Mungkin kita teringat bagaimana almarhum ayah atau ibu semasa hidupnya sering bercerita tentang keinginan kuat untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Namun, kenyataan hidup terkadang tidak berjalan selaras dengan keinginan. Faktor ekonomi yang pas-pasan atau kondisi fisik yang terus menurun membuat kesempatan itu tidak kunjung tiba sampai ajal menjemput.
Kondisi tersebut sering kali memicu pertanyaan besar bagi kita yang ditinggalkan. Muncul keraguan apakah seorang anak masih punya kesempatan untuk menghajikan orang tuanya yang sudah meninggal dunia, terutama jika almarhum memang belum pernah berhaji dan sama sekali tidak meninggalkan wasiat sebelum wafat. Apakah niat baik ini bisa diterima secara syariat, atau justru kita terbentur aturan yang tidak memperbolehkannya?
1. Hukum Menghajikan Orang Tua yang Sudah Meninggal Karena Belum Pernah Mampu Haji

Kebingungan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi dan banyak dialami oleh orang lain. Ada kekhawatiran bahwa melakukan badal haji tanpa wasiat itu tidak sah, atau ada anggapan bahwa hanya anggota keluarga inti saja yang berhak melakukannya. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam mazhab Syafi’i yang banyak kita ikuti, persoalan ini sebenarnya sudah dibahas secara sangat mendetail oleh para ulama. Memahami rincian hukum ini menjadi penting agar niat bakti kita kepada orang tua memiliki landasan yang kuat dan tidak sekadar berbekal perasaan semata.
Secara garis besar, jika orang tua kita wafat dalam kondisi belum pernah berhaji karena memang semasa hidupnya belum memiliki kemampuan finansial maupun fisik, dan mereka juga tidak meninggalkan wasiat untuk dihajikan, pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i menyatakan bahwa mereka tetap boleh dihajikan. Aturan ini memberikan ruang bagi siapa pun, baik itu ahli waris maupun orang lain di luar keluarga, untuk melaksanakan haji atas nama almarhum. Menariknya, pendapat yang menjadi pegangan utama atau disebut sebagai ashah bahkan menyebutkan bahwa orang lain boleh menghajikan almarhum meski tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada ahli waris yang ditinggalkan. Jadi, dari sisi keabsahan, seorang anak tidak perlu ragu jika ingin menghajikan orang tuanya yang belum sempat berangkat karena keterbatasan ekonomi.
2. Mengapa Badal Haji Tetap Diperbolehkan?

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa karena tidak ada kewajiban yang mengikat, maka tidak perlu ada penggantian. Namun, para ulama mazhab Syafi’i memiliki sudut pandang yang lebih luas. Imam an-Nawawi dalam kitab Raudhah ath-Thalibin menjelaskan bahwa meski seseorang meninggal sebelum mampu berhaji, menghajikannya tetap dibolehkan karena ibadah tersebut akan terhitung sebagai pelaksanaan Haji Islam bagi almarhum. Pandangan inilah yang kemudian banyak dipegang oleh ulama’-ulama’ setelahnya dan menjadi rujukan utama dalam kitab-kitab fikih.
3. Badal Haji Tanpa Wasiat, Apakah Sah?

Persoalan wasiat juga sering menjadi ganjalan di pikiran masyarakat. Apakah benar-benar sah menghajikan orang tanpa ada pesan tertulis atau lisan dari mereka? Merujuk pada kitab Mughni al-Muhtaj, ditegaskan bahwa pelaksanaan Haji Islam bagi orang yang meninggal sebelum mampu tetap sah meski tanpa wasiat. Para ulama memberikan sebuah perumpamaan atau analogi yang sangat mudah dipahami, yaitu seperti seseorang yang melunasi utang orang yang sudah meninggal. Ketika kita melunasi utang orang lain, pelunasan itu tetap dianggap sah dan menggugurkan beban almarhum, meskipun pihak keluarga tidak memintanya. Begitu pula dengan badal haji dalam kondisi ini; dianggap sebagai pemberian kebaikan bagi si mayit.
Namun, ada batasan penting yang perlu diperhatikan agar kita tidak keliru. Hal ini hanya berlaku untuk Haji Islam, yakni haji yang pertama kali dilakukan. Jika almarhum semasa hidupnya ternyata sudah pernah berhaji, lalu kita ingin menghajikannya lagi untuk kedua kalinya sebagai haji sunnah tanpa ada wasiat dari mereka, maka menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, hal tersebut tidak sah. Syari’at membedakan mana yang merupakan kewajiban dasar dan mana yang bersifat tambahan atau sunnah.
4. Apakah Hanya Anak atau Ahli Waris yang Boleh Menghajikan?

Faktanya, literatur fikih seperti Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah menjelaskan bahwa orang lain yang bukan ahli waris pun boleh melakukannya. Kelonggaran ini menunjukkan bahwa Islam memberikan jalan yang sangat lebar bagi siapa saja yang ingin mengirimkan amal kebaikan kepada mereka yang telah tiada. Hal ini memberikan ketenangan bagi kita, bahwa bakti kepada orang tua tidak terputus hanya karena persoalan teknis siapa yang berangkat, selama syarat-syarat dasarnya terpenuhi.
5. Bagaimana Jika Orang Tua Sebenarnya Sudah Pernah Mampu Berhaji?

Dalam konteks ini, ulama mengenal istilah istiqrar. Istiqrar adalah kondisi di mana seseorang sudah memiliki semua prasyarat haji dan sudah menemui musim haji yang cukup waktunya untuk berangkat, namun ia tidak juga melaksanakannya.
Jika almarhum sudah mencapai tahap istiqrar dan meninggalkan harta warisan yang cukup, maka menghajikan mereka menjadi wajib hukumnya dengan menggunakan harta peninggalan tersebut. Hal ini dikarenakan kewajiban haji sudah dianggap “menetap” dalam tanggungannya. Namun, jika mereka sudah istiqrar tetapi tidak meninggalkan harta yang cukup, ahli waris memang tidak wajib menghajikan dengan uang pribadi, tetapi sangat disunnahkan untuk melakukannya agar tanggungan haji almarhum bisa tertunaikan. Sementara bagi mereka yang baru saja mampu namun meninggal sebelum sempat ada kesempatan berangkat (belum istiqrar), tidak ada kewajiban haji, tapi jika ada yang ingin membadalkannya, itu tetap sah dan diperbolehkan.
6. Kesimpulan

Memahami rincian seperti ini membantu kita melihat betapa luasnya rahmat Tuhan yang masih memberikan kesempatan bagi seorang anak untuk berbakti meski orang tuanya sudah tidak ada. Kita tidak hanya sekadar mengikuti emosi, tetapi berjalan di atas panduan ilmu yang jelas. Bakti kepada orang tua melalui badal haji adalah salah satu bentuk kasih sayang yang nyata, namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan kondisi-kondisi yang telah dirinci oleh para ulama’ agar ibadah tersebut benar-benar tepat sasaran. Dengan begitu, niat baik kita untuk memuliakan orang tua di alam sana dapat terlaksana dengan cara yang benar dan menenangkan hati.
7. Refrensi
روضة الطالبين (١٣/٣) ولو لم يكن الميت حج ولا وجب عليه لعدم الاستطاعة ففي جواز الإحجاج عنه طريقان أحدهما طرد القولين لأنه لا ضرورة إليه
والثاني القطع بالجواز لوقوعه عن حجة الإسلام فإن استأجر للتطوع وجوزناه فللأجير الأجرة المسماة
مغني المحتاج (٦٨/٣) (وللأجنبي أن يحج) حجة الإسلام وكذا عمرته وحجة النذر وعمرته (عن الميت) من مال نفسه وإن لم تجب عليه حجة الإسلام وعمرته قبل موته لعدم استطاعته (بغير إذنه في الأصح) كقضاء الدين والثاني لا بد من إذنه للافتقار إلى النية وصححه المصنف في نظيره من الصوم في كتاب الصيام وفرق الأول بأن للصوم بدلا وهو الإمداد تنبيه قوله بغير إذنه ظاهره إذن الميت قبل وفاته وهو ظاهر إذا كان إذنه في حال جواز الاستنابة وقال ابن الملقن بعد قول المصنف بغير إذنه أو بغير إذن الوارث كذا صوراها في الروضة وأصلها وهو صحيح أيضا فإنه إذا أذن الوارث صح قطعا قال الأذرعي وحينئذ فينبغي أن يقال بغير إذن ليشمل إذنه وإذن الوارث والحاكم حيث لا وارث أو كان الوارث الخاص طفلا ونحوه اه ...... أما حج التطوع فقال العراقيون إن لم يوص به لم يصح عنه ونقل المصنف في المجموع في كتاب الحج الاتفاق عليه مع حكايته هنا تبعا للرافعي عن السرخسي أن للوارث الاستنابة وأن الأجنبي لا يستقل به على الأصح وما ذكر في كتاب الحج هو المعتمد وجرى عليه ابن المقري في روضه هنا وعبارته مع الشرح ولو حج عنه الوارث أو الأجنبي تطوعا بلا وصية لم يصح لعدم وجوبه على الميت وفي كلام الشارح ما يوهم اعتماد الثاني
حاشيتا قليوبي وعميرة (٣٨٦/١٠) (وللأجنبي أن يحج عن الميت) حجة الإسلام (بغير إذنه) أي الوارث (في الأصح) كقضاء الدين، والثاني لا بد من إذنه للافتقار إلى النية وللوارث أن يحج عنه ، وإن لم يوص ، كما ذكره في المحرر وليس للأجنبي أن يحج عنه تطوعا إذا لم يوص به
حاشيتا قليوبي وعميرة (٣٨٨/١٠) قوله : (وللأجنبي أن يحج عن الميت حجة الإسلام) وإن لم تجب عليه قبل موته كما مر. قوله : (أي الوارث) قيد به ؛ لأنه محل الخلاف ؛ إذ مع إذنه عن إذن الميت صحيح قطعا . قوله : (وللوارث أن يحج عنه) أي حجة الإسلام كما مر . قوله : (وليس للأجنبي إلخ) وكذا الوارث على المعتمد وأوهم كلام الشارح خلافه فالحاصل أن الفرض ولو بحسب الأصل كحجة الإسلام عمن مات قبل الاستطاعة صحيح منهما مع عدم الوصية ، وأن النقل غير صحيح منهما مع عدم الوصية ، كما علم ، والمراد بالأجنبي غير الوارث قاله شيخنا ، ويدل له كلام الشارح وقياس الصوم أن يراد به غير القريب بالأولى من الصوم ؛ لأن الصوم عبادة بدنية محضة ؛ ولذلك لم يصح من غير القريب ، ولو فرضا أو أوصى به فتأمل
المجموع شرح المهذب (١٠٩/٧) (الشرح) حديث بريدة رواه مسلم وفى الفصل مسائل
(احداها) إذا وجب عليه الحج فلم يحج حتي مات فان مات قبل تمكنه من الاداء بان مات قبل حج الناس من سنة الوجوب تبينا عدم الوجوب لتبين علامة عدم الامكان هكذا نص عليه الشافعي وقطع به الاصحاب وكان أبويحيى البلخى من أصحابنا يقول يجب قضاؤه من تركته ثم رجع عن ذلك حين أخرج إليه أبو إسحق المروزى نص الشافعي كما ذكره المصنف ودليله في الكتاب وان مات بعد التمكن من أداء الحج بان مات بعد حج الناس استقر الوجوب عليه ووجب الاحجاج عنه من تركته قال البغوي وغيره ورجوع الناس ليس معتبرا انما المعتبر امكان فراغ أفعال الحج حتى لو مات بعد انتصاب ليلة النحر ومضي امكان السير إلى مني والرمي بها والى مكة والطواف بها استقرار الفرض عليه وان مات أو جن قبل ذلك لم يستقر عليه وان هلك ماله بعد رجوع الناس أو بعد مضي إمكان الرجوع استقر عليه الحج وإن هلك ماله بعد حجهم وقبل الرجوع أو امكانه فوجهان (أصحهما) أنه لا يستقر لانه يشترط بقاؤه في الذهاب والرجوع وقد تبينا أن ماله لا يبقي إلى الرجوع هذا حيث نشترط أن يملك نفقة الرجوع فان لم نشترطها استقر بلا خلاف ولو أحصروا وأمكنه الخروج معهم فتحللوا لم يستقر عليه الحج لانا تبينا عجزه وعدم امكان الحج هذه السنة فلو سلكوا طريقا آخر وحجوا استقر عليه الحج وكذا لو حجوا في السنة التي بعدها إذا عاش وبقى ماله
(الثانية) قال أصحابنا حيث وجب عليه الحج وأمكنه الاداء فمات بعد استقراره يجب قضاؤه من تركته كما سبق ويكون قضاؤه من الميقات ويكون من رأس المال لما ذكره المصنف هذا إذا لم يوص به فان أوصي بان يحج عنه من الثلث أو أطلق الوصية به من غير تقييد بالثلث ولا برأس المال فهل يحج عنه من الثلث أم من رأس المال فيه خلاف مشهور في كتاب الوصية فان كان هناك دين آدمى وضاقت التركة عنهما ففيه الاقوال الثلاثة السابقة في كتاب الزكاة (أصحها) يقدم الحج (والثاني) دين الآدمى (والثالث) يقسم بينهما وقد ذكر امام الحرمين والبغوي والمتولي وآخرون من الاصحاب قولا غريبا للشافعي أنه لا يحج عن الميت الحجة الواجبة الا إذا أوصى حج عنه من الثلث وهذا قولا غريب ضعيف جدا وسنوضح المسألة في كتاب الوصية ان شاء الله تعالي وهذا كله إذا كان للميت تركة فلو استقر عليه الحج ومات ولم يحج ولا تركة له بقى الحج في ذمته ولا يلزم الوارث الحج عنه لكن يستحب له فان حج عنه الوارث بنفسه أو استأجر من يحج عنه سقط الفرض عن الميت سواء كان أوصي به أم لا لانه خرج عن أن يكون من أهل الاذن فلم يشترط اذنه بخلاف المعضوب فانه يشترط اذنه كما سبق لامكان أدائه ولو حج عن الميت أجنبي والحالة هذه جاز وان لم يأذن له الوارث كما يقضى دينه بغير اذن الوارث ويبرأ الميت به
Post a Comment